Ketaatan Nabi Ibrahim

 


Berawal dari kisah yang telah diterapan pada ayat sebelumnya, yang menjelaskan tentang peringatan Allah SAW. yang memperingatkan Bani Israil untuk beriman kepada Allah seluruh makhluk yang mengimaninya. Pada surat Al-Baqarah ayat 152 ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw beserta sluruh kaumnya untuk menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangannya. Salah satu tempat yang sudah Allh tetapkan sebagai tempat beribadah yaitu Ka’bah (Baitullah), sebagai tempat yang aman, kemudian dijadikan sebagai tempat berkumpul bagi umat muslim guna menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

 Perintah Allah SWT sebenarnya lebih terkhusus pada nabi Ibrahim dan Ismail agar dapat menenangkan keadaan nabi Muhammad saw yang terguuncang hatinyya akibat perlakuan kaum kafir Quraisy yang menentang adanya ajaran agama islam yang dibawa oleh beliau. Namun bebeda lagi dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang lebih menerima kedatangan Nabi Muhammad saw, karena agama Islam memiliki asas yang sama dengan nenek moyang mereka, khususnya keyakinan Nabi Ibrahim saw.

 Dari situlah Nabi Ibrahim memiliki respon yang baik terhadap agama Islam, dan secara otomatis beliau juga beriman kepada Allah dan menjauhi larangannya. Setelah kejadian itulah Allah SWT. memberikan Ka’bah di Tanah Haram (Makkah) sebagai tempat beribadah khususnya sholat bagi kaum muslim, yang biasanya disebut sebagai tempat (maqam) Ibrahim. Sebagaimana yang telaf Allah firmanan dalam QS. Al-Baqarah ayat 125.

….وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ …

“….Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat…”

 Dalam ayat ini terdapat dua bacaan yang berbeda, yang petama adalah bacaan yang memiliki khabar, dan bacaan yang kedua mengandung shigah Amr. Maka dari itu, para ulama’ memiliki berbagai pendapat dalam perbedaan cara membacanya. Oleh karen itu, bacaan dengan shigah Khobar yang menunjukkan ayat yang mengandung makna tempat sholat yang berbeda setiap tahunnya.

Baca Juga: Menelisik Pasal Sumpah (Qiro'at Science Oath In Tafsir QS Al-Maidah 89)

 Ada dua pelajaran yang dapat kita ambil hikmahya dari ayat tersebut, yakni dengan didirikannya Ka’bah sebagai tempat beribadah kepada Allah saw. Seluruh umat muslim dapat berkumpul menjadi satu. Yang mungkin datng dari seluruh penjuru dunia, akhinya dapat mengenal dan menjalin silaturahmi antar sesame umat muslim dari segala penjuru. Kebiasaan inipun telah berlangung sejak zaman Nabi Muhammad saw, yang berbondong-bondong datang ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji ke baitullah. Dengan datang langsung ke Baitullah, hati akan terasa lebih nyaman, ibadah lebih khusyuk, dan akan terbayang-bayang untu kembali dating ke sana, karena mengingat nikmatnya beribadah di Baitullah.

 Hikmah yang kedua adalah Allah akan menjadikan Baitullah yang dekat disekitar Masjidil haram sebagai tempat yang aman untuk para penduduknya, karena kota inilah yang menyelamatkan nabi Muhammad dari kejaran kaum kafir Quraisy. Selain itu masyarakat Arab terkenal dengan sikap yang suka menuntut pembelaan dari kabilah-kabilah pembunuh, suka perang, ataupun pendendam. Para kabilah itu akan terus mengincar dimanapun sasarannya berada, kecuali mereka masuk ke tanah haram maka akan selamat. 

Pada tanggal 10 Ramadhan 8 Hijriyah (630 M) kota Makkah benar-benar dibebaskan dari kaum kafir Quraisy dengan mengambil alih tanpa adanya perlawanan dan tumpah darah. Hal ini terjadi akibat ulah kaum kafir Qiraisy yang menghianati janji Hudaibiah yang telah ditanda tangani oleh kedua belah pihak tersebut. Oleh karena itu, bangsa Arab sangat mengagungkan dan memuliakan kota Makkah dari dulu hingga sekarang. 

 Namun tidak sedikit pula kaum kafi Quraisy yang ingin menghancurkan Ka’bah, bahkan mereka membawa pasukan bergajah untuk menghancurkan Baitullah, pasukan ini dipimpin oleh Abrahah Raja Najasyi dengan bala tentaranya yang ingin menguasai wilayah Makkah Al-Mukaramah. Namun usaha Abrahah dan pasukan belum juga berhasil, arena Allah SWT mengirimkan pasukan burung ababil untuk mengagalkan rencan Abrahah. Kejadian ini juga dijelaskan dalam Al-qur’an surat Al-Fiil ayat satu sampai lima.


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَٰبِ ٱلْفِيلِ

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِى تَضْلِيلٍ

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيل

تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? ; Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kabah) itu sia-sia? ; Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,;  yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar; Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Oleh;Uswatun Hasanah (Mahasiswi Jurusan Ilmu Al Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang)

Sajak Sansekerta

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama