Renungan Sang Sanda

 

Merah putih yang digiring pada tegaknya pilar
Seolah mulia, di tandai dengan satu penghormatan

Para insan yang tunduk
Seakan merenungkan masa kelam
Di sini, di atas bumiku pertiwi
Ku tatap meski gentar

Arca-arca yang dengan gagahnya seolah menyuarakan gambaran silam
Ini sanda! Orang awam yang melihat kemerdekaan dengan sebelah mata

Ini sanda! Orang awam yang pengheningannya mengawang

"hei bung!!!"

Sekuat tenaga diri ini melantangkan laung
"iya kau! Arca-arca yang bertapak gagah!
Tak cukup perjuanganmu pada masa-masa kelam
!," 
"Ini saya sanda yang haus! Haus akan sejarah
Hei bung kau dimana?
Tak bisa kah kau mengabdi lebih lama?
Bumiku yang merdeka, rupanya masih perlu sosok seperti di balik area
!"

Bagai di tampar angin,
Saya sanda terkulai pada tanah

Tersungkur selira ini di hempas kenyataan
Terdiam mengerlingkan apa yang baru saya lontar
Sayalah penerus di balik arca ini!
Bangkit selira ini mengambil sembilah pendar yang menyala

Lalu dengan sengaja saya hantamkan pada saya seorang sanda
Hanya untuk menyadarkan inilah saatnya menjadi mereka di masa silam.



Annisa Putri


Sajak Sansekerta

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama