Konsep Al Wala' Wal Bara' dalam Menghadapi Tantangan Global

Secara bahasa Al-Wala yang berarti “mencintai, loyal, membela, dan dekat”. Sedangkan Wal Bara' sendiri mempunyai arti dalam kata kerja yaitu "memotong, lepas atau membenci". 

Jadi bisa disimpulkan Al-Wara Wal Bara' adalah suatu sikap umat Muslim dengan aqidahnya akan mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci oleh Allah. 

Penulis berpendapat bahwa Al-Wala Wal Bara' ini mempunyai esensi yang sama dengan Amar ma'aruf nahi mungkar yaitu perintah Allah SWT. 

Untuk mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang mungkar (larangan-nya.) Seorang muslim dianjurkan untuk berbuat baik sehingga perbuatan tersebut dicintai oleh Allah, begitu sebaliknya seorang muslim hendaklah menjauhi perbuatan-perbuatan mungkar yang dibenci Allah SWT.

Prinsip Al Wara' Wal Bara' ini harus dimiliki oleh setiap orang mukmin. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, keterangan ini terdapat di Surah Al-Hujurat Ayat 10. 

Selain itu Surah At-Taubah Ayat 71, Al-Mumtahanah ayat 1 dan 4 serta Al-Maidah ayat 51 itu juga merupakan ayat-ayat Al-Qur'an yang menerangkan sikap Al Wara' Wal Bara'.

Lalu bagaimana penerapan sikap Al Wara' Wal Bara' dalam menghadapi tantangan zaman sekarang? 

Modernitas di seantero dunia semenjak kemunculan yang ditandai dengan renaisence sekitar abad ke 17 lalu memiliki dampak positif dan negatif. Sisi positifnya berkembang pesatnya sains dan teknologi. Namun dalam menikmati semua itu, secara tidak sadar ia justru diperbudak oleh modernitas. Dunia yang semakin mengglobal ini memicu masuknya paham Liberalis, komunisme, radikalisme, kapitalisme dan lainnya. 

Problem tersebut tentunya sangat menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang mana telah tertanam sejak dahulu. Untuk menyikapi hal tersebut seorang mukmin haruslah bersikap waspada dan tetap berpegang teguh terhadap Aqidah kita. Dengan sikap waspada dan teguh pendirian terhadap aqidah kita tidak mudah digoyahkan oleh statement - statement para kelompok Neo - Modernis.

Peradaban Islam, salah satunya yang sangat sentral adalah pandangan hidup Islam. Dalam pandangan hidup Islam dapat disimpulkan menjadi tiga yaitu "Ilmu, Iman dan Amal", ilmu harus mendahului iman karena harus tahu dulu sebelum meyakini dan kemudian Amal harus disertai dengan ilmu dan iman karena amal tanpa ilmu itu buta dan ilmu tanpa amal itu sia-sia.

Cara pandang Islam dan dunia barat tentunya berbeda. Cara pandang dunia barat terhadap realitas sangat dipengaruhi oleh peradaban barat yang sekuler dan liberal. Fenomena sekularisme dan liberalisme mengglobal keseluruhan dunia dan disebarkan keagama-agama lain, termasuk islam. Sebagai prosesnya masuk dalam berbagai bidang sosial, politik, metodologi pemahaman agama dan sebagainya.

Arti , tujuan, dan nilai hidup sangat ditentukan oleh pandangan hidup masing-masing manusia. Manusia yang berpikiran jangka pendek mereka akan cenderung mementingkan diri mereka sendiri dan berekspektasi kepada dunia saja. Sedangkan manusia yang berpikir dalam jangka panjang mereka tentu akan memikirkan tentang dunia dan apa yang akan terjadi setelah hidup di dunia ini. 

Mereka sadar bahwa hidup di dunia ini tujuannya untuk beribadah. Seperti yang dijelaskan pada QS. Az- Zariyat ayat 56 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"

Baca Juga: Ini Semua Tentang Kita..

Dalam faculty theory perbuatan manusia dalam konteks keagamaan dapat dipengaruhi dengan tiga fungsi salah satunya adalah fungsi rasa yaitu suatu kekuatan dalam jiwa manusia yang berperan membentuk dan memotivasi tingkahlaku seseorang. 

Fungsi ini bisa menyebabkan penghayatan dalam beragama. Jika sudah melalui tahapan penghayatan pasti akan muncul sebuah makna yang mendalam dalam beragama.

Penulis memberi kesimpulan bahwa ketika theory tersebut diterapkan pada masyarakat maka dampak arus modernitas tidak akan berdampak besar. Mengapa bisa seperti itu? Karena orang-orang yang memiliki fungsi rasa ini dapat membentengi diri dan membangun kekuatan dalam jiwanya sehingga memotivasi untuk tidak melakukan hal-hal yang dianggap berseberangan atau tidak ada kaitannya dengan agama. 

Mereka akan cenderung menjauhinya. Pola tingkahlaku yang lahir dari sebuah pemikiran yang mendalam tentunya akan sangat dipertimbangkan mengenai keguna'an, manfa'at dan waktu yang terus berjalan tanpa ada pengulangan.


Oleh: Fyndy

Sajak Sansekerta

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama